Tampilkan postingan dengan label Nursing Care Plan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nursing Care Plan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2012

Anemia Defisiensi Zat Besi


1.      Defenisi
Anemia akibat defisiensi zat besi untuk sintesis Hb merupakan penyakit darah yang paling sering pada bayi dan anak. Frekuensinya berkaitan dengan aspek dasar metabolisme besi dan nutrisi tertentu.
Anemia defisiensi besi adalah kadar besi dalam tubuh dibawah normal. Pada tahap awal kita akan menemukan cadangan besi tubuh berkurang. Kemudian jika kekurangan berlanjut kadar besi dalam plasma akan berkurang. Pada akhirnya proses pembentukan hemoglobin akan terganggu dan menyebabakan anemia defisiensi besi.
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit.

2.      Epidemiologi
Diperkirakan 30% penduduk duni menderita anemia dan lebih dari 50% penderita ini adalah ADB dan terutama mengenai bayi, anak sekolah dan ibu hamil dan menyusui. Di indonesia masih merupakan masalah gizi utama selain kekurangan kalori protein, vit A dan yodium. Penilitian di indonesia mendapatkan prevalensi ADB pada anak balita sekitar 30-40%, pada anak sekolah 25-35 %, sedangkan hasil SKRT 1992 prevalensi ADB pada balita sebesar 5.55%. ADB mempunyai dampak yang merugikan bagi kesehatan anak berupa gangguan tumbuh kembang, penurunan daya tahan tubuhdan daya konsentrasi serta kemampuan belajar sehingga menurunkan prestasi belajar disekolah.
3.      Etiologi
Anemia defisisensi besi dapat disebabkan oleh rendahnhya masukan zat besi, gangguan absorpsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun:
a)      Kehilangan besi akibat perdarahan menahun yang dapat berasal dari:
-          Saluran cerna (akibat dari tukak peptik kanker lambung, kanker kolon, difertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang)
-          Saluran genitalia wanita (menoragi atau metroragi)
-          Saluran kemih (hematuria)
-          Saluran napas (hemaptoe)
b)      Faktor nutrisi (akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan atau kualitas besi yang tidak baik seperti makanan banyak mengandung serat, rendah vit. C, rendah daging)
c)      Kebutuhan besi meningkat seperti pada prematuritas anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan.
d)     Gangguan absorpsi besi (gastrekotomi, colitis kronis)



5.      Manifestasi Klinis
a)      Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb, vasokonstriksi.
b)      Takikardi dan bising jantung (peningkatan kec. Aliran darah), angina (sakit dada).
c)      Dispnea, napas pendek, cepat capek saat aktivitas (pengiriman oksigen berkurang)
d)     Sakit kepala, kelelahan, tilitus (telinga berdengung) menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada SSP.
e)      Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare).
f)       Koilorikia è kuku sendok atau spoon nail, kuku menjadi rapuh bergaris-garis vertikal dan menjadi cejung seperti sendok.
g)      Atropi papil lidahè adalah permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang.
h)      Stomatitis angularis è adanya peradangan pada sudut mulut, sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.
i)        Disfagia è nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring.
j)        Atropi mukosa gaster sehingga menimbulkan aklorida.

6.      Pemeriksaan Penunjang
a)      Hemoglobin, Hct dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) menurun.
b)      Hapus darah tepi menunjukkan hipokromik mikrositik
c)      Kadar besi serum (SI) menurun dan TIBC meningkat, saturasi menurun
d)     Kadar Feritin menurun dan kadar free Erythrocyte Porphyrin (FEP) meningkat
e)      Susum tulang : aktivitas eritropoetik meningkat

7.      Penatalaksanaan
a)      Terapi bergantung pada penyebabnya, misalnya pengobatan cacing tambang, hemoroid, dan menoragi.
b)      Pemberian preparat  besi untuk menggantikan kekurangan besi dalam tubuh. Pemberian preparat besi biasanya diberikan secara peroral atau paranteral.
a)      Besi peroral
Ada 4 bentuk garam besi yang dapat iberikan melalui oral, yaitu sulfat, glukonat, kumarat, dan subsinat.
b)      Besi parenteral
Preparat yang tersedia dalam irondextron complex dan iron sorbitol citic acid complex yang dapat diberikan secara IM dalam atau IV
c)      Diet
Sebaiknya diberikan makanan bergisi yang tinggi protein terutama protein hewani.
d)     vitamin C
Diberikan 3 x 100 mg/ hari. Untuk meningkatkan absopsi besi.
e)      Transfusi darah
Indikasi pemberian transfusi darah pada anemia kekuranan besi adalah :
-          Adanya penyakit jantung anemik
-          Anemia simptomatik
-          Penderita memerlukan peningkatan kadar Hb yang cepat

8.      Komplikasi
a)      Nyeri dada
b)      Kardiomegali
c)      Hemoblobinuria
d)     Nilai Hemoglobin kurang dari 59/100 ML dapat menyebabkan gagal jantung dan kematian.

9.      Prognosis
Prognosis baik apabila penyebab anemianya diketahui hanya karena kekurangan zat besinya saja, serta kemudian dilakukan penanganan yang adekuat. Pada kasus ADB karena perdarahan, apabila sumber perdarahan dapat diatasi maka prognosisnya juga akan baik, terutama apabila diberikan terapi Fe yang adekuat. Tentunya penyakit dasar sebagai sumber perdarahan kronisnya pun menentukan prognosis pasien

10.  Pendidikan Kesehatan
a)      Memberikan informasi tentang penyakit (prognosi anemia defisiensi besi)
b)      Tekankan pentingnya zat besi dalam tubuh
c)      Berikan informasi kepada klien mengenai makan yang dapat meningkatkan kadar zat besi
d)     Berikan informaasi yang dapat timbul akibat defisiensi besi

11.  Pencegahan
a)      Lakukan pertama pada klien yang mengalami trauma agar tidak terjadi perdarahan
b)      Konsumsi makanan yang dapat meningkatkan kadar besi
c)      Cegah malnutrisi besi pada klien yang sedang hamil dan anak pada usia prematuritas
d)     Hindari makanan yang dapat menghambat absorbsi zat besi.
e)      Meningkatkan penggunaan ASI ekslusif, menunda penggunaan susu sapi sampai usia 1 Tahun Memberikan makana bayi yang mengandung besi serta makanan yang kaya dengan asam askorbat (jus buah) pada saat memperkenalkan makanan pada usia 4-6 bulan
f)       Memberikan suplementasi Fe kepada bayi yang kurang bulan.

12.  Diagnosa Keperawatan
a)      Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen atau nutrien ke sel
b)      Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplay oksigen dan kebutuhan
c)      Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Kegagalan  untuk mencerna makanan/ absopsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal
d)     Ganguan konsep diri ; body image b.d penampilan
e)      Pola nafas tak efektif b.d ketidakseimbangan suplay oksigen

13.  Kenapa mata anak berkunang-kunang ?
Penurunan Fe è gangguan erotropoesis è penurunan hemoglobin èpenurunan O2  èhipoksemia èhipoksia è penurunan perfusi jaringan è penurunan O2  ke otak è mata berkunang-kunang.

14.  Kenapa anak lebih cepat lelah, lesu dan lemah ?
Penurunan Fe è gangguan erotropoesis è penurunan hemoglobin èpenurunan O2  èhipoksemia èhipoksia è penurunan perfusi jaringan è penurunan O2  ke jaringan è lesu, lelah dan lemah.

15.  Apa yang menyebabkan koilirikia, atropi papil lidah serta disfagia ?
a)      Koilorikia
Perdarahan è kehilangan besi (Fe serum menurun) è penurunan cadangan besi è defisiensi zat besi è penurunan besi pada epitel è kelainan bentuk kuku (koilorikia).
b)      Atropi papil lidah
Perdarahan è kehilangan besi (Fe serum menurun) è penurunan cadangan besi è defisiensi zat besi è penurunan besi pada enzim è atropi papil lidah.
c)      Disfagia
Perdarahan è kehilangan besi (Fe serum menurun) è penurunan cadangan besi è defisiensi zat besi è penurunan besi pada epitel è kerusakan epitel hipofaring è disfagia.

16.  Mengapa anemia defisiensi besi menjadi hyperplasia normoblastik ?
Karena terjadi penurunan eritropoesis yang disebabkan oleh defisiensi besi sehingga akan terjadi kompensasi dari sumsum tulang untuk meingkatkan eritropoesis dengna cara peningkatan eritroblast dalam sumsum tulang (hyperplasia normoblastik).

17.  Pengaruh serum feratin pada anemia defisiensi besi ?
Serum feratin adalah suatu barometer yang terpercaya dan sensitive untuk menentukan cadangan besi orang sehat. Serum feratin secara luas dipakai dalam praktek klinik dan pengamataan populasi. Seru feratin < 12 µg/dL sangat spesifik untuk kekurangan zat besi, yang berarti kehabisan semua cadangan besi, sehingga dapat dianggap sebagai diagnostic untuk kekurangan besi.

18.  Lama Penyembuhan
Lama penyembuhan anemia defisiensi zat besi sampai 2-3 bulan hingga kadar hemoglobin normal dengan penatalaksanaan yang sesuain indikasi

Sabtu, 24 Maret 2012

Osteoporosis

PEMBAHASAN

DEFINISI
Osteoporosis adalah suatu penyakit dengan karekteristik masa tulang yang berkurang dengan kerusakan mikroarsitektur jaringan yang menyebabkan kerapuhan tulang dan risiko fraktur yang meningkat (GONTA P, 1996)
Dengan demikian, penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah, tulang terdiri dari kalsium – kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.

KLASIFIKASI OSTEOPOROSIS
Klasifikasi osteoporosis dibagi dalam 2 kelompok yaitu
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis ini terdapat pada wanita pascamenopause (postmenopause osteoporosisi) dan pada laki-laki lanjut usia (senile osteoporosisi)
2. Osteoporosis sekunder
Dialami oleh kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (kortikosteroid, barbiturate, anti kejang dan hormone tiroid yang berlebihan). Pemakaian alcohol yang berlebihan dan merokok memperburuk keadaan osteoporosis.
Djuwantoro D (1996) membagi osteoporosis menjadi osteoporosis posmenopause (Tipe I), osteoporosis involutional (tipe II), osteoporosis idiopatik, juvenile dan osteoporosis sekunder
1. Osteoporosis postmenopouse ( Tipe I )
Merupakan bentuk yang paling serius ditemukan pada wanita kulit putih dan asia. Bentuk osteoporosis ini disebabkan oleh percepatan resorpsi tulang yang berlebihan dan lama setelah penurunan sekresi hormone estrogen pada masa menopause.
2. Osteoporosis involutional ( Tipe II )
Terjadi pada usia diatas 75 tahun pada perempuan maupun laki-laki tipe ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan yang samar dan lama antara kecepatan resorpsi tulang dengan kecepatan pembentukkan tulang.

3. Osteoporosis idiopatik
Adalah tipe osteoporosisi primer yang jarang terjadi pada wanita premenopouse dan pada laki-laki yang berusia dibawah 75 tahun. Tipe ini tidak berkaitan dengan penyebab sekunder atau factor risiko yang mempermudah timbulnya penurunan densitas tulang.
4. Osteoporosis juvenile
Merupakan bentuk yang jarang terjadi dan bentuk osteoporosis yang terjadi pada anak-anak prepubertas.
5. Osteoporosis sekunder
Penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menyebabkan fraktur atraumatik akibat factor ekstrinsik seperti kelebihan kortikosteroid, arthritis rheumatoid, kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastosistosis sistemik, hiperparatiroidisme, varian status hipogonade, dan lain-lain.

ETIOLOGI
1. Kekurangan kalsium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis.
2. Bahan katabolic endogen (di produksi oleh tubuh) dan eksogen (dari sumber lain) menyebabkan osteoporosis.
3. Kortikosteroid yang berlebihan, syndrome chussing, hiperthiroidisme dan hiperparathiroidisme mengakibatkan kehilangan massa tulang.
4. Keadaan medis menyertai (syndrome malabsorpsi, intoleransi laktosa, penyalahgunaan alcohol, gagal ginjal, gagal hepar dan gangguan endokrin )
5. Faktor usia, Menghilangnya hormone estrogen pada saat menopause.

PATOFISIOLOGI
Remodeling tulang normal pada orang dewasa akan meningkatkan massa tulang sampai sekitar usia 35 tahun. Genetic, nutrisi, gaya hidup ( missal merokok, konsumsi kafein, dan alcohol. Dan aktifitas mempengaruhi puncak masa tulang. Kehilangan masa tulang mulai terjadi setelah tercapainya puncak masa tulang. Pada pria masa tulang lebih besar dan tidak mengalami perubahan hormonal mendadak. Sedangkan pada perempuan hilangnya estrogen pada saat menopause dan pada ooforektomi mengakibatkan percepatan resorpsi tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun pascamenapause.
Diet kalsium dan vitamin D yang sesuai harus mencukupi untuk mempertahankan remodeling tulanh dan fungi tubuh. Asupan kalsium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan prtumbuhan osteoporosis. Asupan harian kalsium yang dianjurkan (RDA) meningkat pada usia 11-24 tahun (adolesen dan dewasa muda) hingga 1200 mg per hari, untuk memaksimalkan masa tulang . RDA untuk orang dewasa tetap 800 mg, tetapi pada perempuan pascammonopause 1000-1500 mg perhari. Sedangkan pada lansia dianjurkan mengonsumsi kalsium dalam jumlah tidak terbatas, karena penyerapan kalsium kurang efisien dan cepat diekskresikan melalui ginjal. (Smeltzer 2002)
Demikian pula, bahan katabolic endogen (diproduksi oleh tubuh) dan eksogen dapat menyebabkan osteoporosis. Penggunaan kortikosteroid yang lama, sindrom clusbing, hipertiroidisme, dan hiperparatiroidisme menyebabkan kehilangan tulang. Obat-obatan seperti izoniasid, heparin, tetrasiklin, antasida yang mengandung aluminium, furosemid, antikonvulsam memangaruhi penggunaan tubuh dan metabolism kalsium.
Imobilitas juga memengaruhi terjadinya osteoporosis. Ketika diimobilisasi dengan gips, paralisis atau inaktivitas umum. Tulang akan diresorpsi lebih cepat dari pembentukkannya sehingga terjadi osteoporosis

MANIFESTASI KLINIS
Kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis), sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala pada beberapa penderita. Jika kepadatan tulang sangat berkurang yang menyebabkan tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Tulang-tulang yang terutama terpengaruh pada osteoporosis adalah radiusdistal, korpusvertebra terutamg mengenai T8-L4, dan kollum femoris.
Kolaps tulang belakang menyebebkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cidera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan didaerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk dowager), yang menyebebkan terjadinya ketegangan otot dan rasa sakit.
Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Selain itu, yang juga sering terjadi adlah patah tulang lengan (radius) didaerah persambungannya dengan pergelangan tangan yang disebut fraktur colles. Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami penyembuhan secara perlahan.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi pada osteoporosis harus mempertimbangkan beberapa hal, seperti:
1. Terapi pencegahan yang pada umumnya bertujuan untuk menghambat hilangnya massa tulang.
Dengan cara memperhatikan factor makanan, latihan fisik, pola hidup yang aktif dan paparan sinar UV. Selain itu juga menghindari obat-obatan dan makanan yang merupakan factor risiko osteoporosis.
2. Meningkatkan massa tulang dengan melakukan pemberian obat-obatan contohnya pemberian hormon pengganti.
3. Pembedahan dilakukan pada pasien bila terjadi fraktur, terutama bila terjadi fraktur panggul.
Terapi penggantian hormone ( hormone replacement therapy-HRT ) dengan estrogen dan progesterone perlu diresepkan bagi perempuan menopause, untuk memperlambat kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang. Perempuan yang menjalani pengangkatan ovarium atau telah mengalami menopause premature dapat mengalami osteoporosis pada usia muda. Estrogen dapat mengurangi resorpsi tulang tapi tidak meningkatkan masa tulang. Penggunaan hormone jangka panjang masih dievaluasi, tetapi estrogen masih dihubungkan dengan sedikit peningkatan insiden kanker payudara dan endometrial. Oleh karena itu, selama HRT klien diharuskan memeriksa payudaranya setiap bulan dan diperiksa panggulnya, termasuk usapan papaninicolau dan biopsy endometrial ( bila ada indikasi ), sekali atau dua kali setahun
Pemberian estrogen secara oral memerlukan dosis terendah estrogen terkonyugasi sebesar 0,625 mg per hari atau 0,5 mg/hari estradiol. Pada osteoporosis, sumsum tulang dapat kembali seperti pada masa pramenopause dengan pemberian estrogen. Dengan demikian hal tersebut menerunkan resiko fraktur.
Perlu juga meresepkan obat-obat lain, dalam upaya menanggulangi osteoporosis, termasuk kalsitonin, natrium fluoride, bifosfonat, natrium etidronat, dan alendronat berfungsi mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause, meningkatkan masa tulang, ditulang belakang dan tulang panggul, dan mengurangi angka kejadian patah tulang. Agar alendronat dapat diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit kemudian tidak boleh makan-minum lainnya. Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Obat ini tidak boleh diberikan pada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan dan lambung tertentu. Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri.
Kalsitonin secara primer menekan kehilangan tulang dan pemberiannya secara suntikan subkutan, intramuskuler atau semprot hidung. Efek samping berupa gangguan gastrointestinal, aliran panas, peningkatan frekuensi urine biasanya terjadi dan ringan. Natrium fluoride memperbaiki aktifitas osteoblastik dan pembentukan tulang, namun kualitas tulang yang baru masih dalam pengkajian. Natrium etidronat menghalangi resorpsi tulang osteoklastik, dan dalam penelitian untuk efisiensi sebagai terapi osteoporosis.
Tambahan fluoride bisa meningkatkan kepadatan tulang tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaian tidak dianjurkan. Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tumbuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi. Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron.
Patah tulang Karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pegelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik.

KOMPLIKASI
Osteoporosis mengakibatkan tulang menjadi panas, rapuh, dan mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Diantaranya:
1. Fraktur kompetensi vertebra torakalis dan lumbalis
2. Fraktur daerah femoris dan trochanterr
3. Patah pada tulang coles pada pergelangan tangan
4. Fraktur kompresi ganda vertebra mengakibatkan deformitas akut
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sinar X akan menunjukkan perubahan setelah terjadi kerapuhan tulang 30 - 60%.
2. Pemeriksaan yang menunjukkan terjadinya densitas tulang meliputi : CTscan, absorpsimetri dual-foton dan dual energy X-ray absorpsimetri (DEXA) atau, densitomtry atau di ukur dengan gelombang ultrasonic.
3. Pemeriksaan laboratorium
Kalsium, serum, fosfat serum, fosfat alkali, eksresi, kalsium, serum, ekskresi hitroksin frolin urine hematokrit dan LED dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis medis lain yang juga menyumbang terjadinya kehilangan tulang.
4. Biopsi tulang menunjukkan tulang tipis dan keropos.
PENDIDIKAN KESEHATAN
Ajarkan Klien untuk:
1. Latihan dan olahraga sesuai yang dianjurkan misalnya olahraga dengan pembebenan yang dilakukan dalam posisi tegak sehingga kerangka tubuh menunjang berat badan, sebagai contoh, jogging, senam, tenis dan sebagainya, olahraga dianjurkan tidak terlalu berlebihan
2. Diet seimbang kaya kalsium, protein dan vitamin D, serta cukup paparan sinar matahari. Salah satu contoh adalah konsumsi susu.
3. Konsumsi makanan kaya magnesium untuk membantu metabolisme kalsium dan vitamin D.
4. Hindari merokok, alkohol, kafein, juga soft drink yang banyak mengandung karbonat yang menghambat penyerapan kalsium.

PENELITIAN TERBARU / Evidance Based Nursing Practice
Seorang peneliti israel menemukan cara pengobatan ooporosis dengan ganja.
THC dan CBD dapat mempercepat proses penyembuhan patah tulang. Osteoporosis adalah pengeroposan tulang yang terjadi akibat penuaan. Sekitar 10 juta penduduk amerika di atas 50 tahun mengalami osteoporosis dan 80% dari mereka adalah perempuan. Sebanyak 30 juta orang memiliki masa tulag yang rendah atau osteopenia yang bisa menyababkan osteoporosis . penelitian terbaru mengungkapka bahwa sistem endocannabinoid memeainkan peran penting dalam pengembangan massa tulang . hasil riset ini dapat di arahkan untuk memerangi osteoporosis.
Di perkirakaan satu dari dua perempuan dan satu dari empat pria diatas usia 50 tahun akan menderita patah tulang karena osteoporosis selama hidup mereka. Obat Biphosphonate seperti baniva acccitane. Reclast dan actonel biasanya di resepkan untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis. Namu obat-obatan tersebut memiliki efek samping seperti mual. Sakit perut dan radang kerongkongan.selain itu beberapa pasien mengalami nyeri otot dan tulang sendi , cardiac arrthytthimias, dan efek samping lain yang di sebut osteonekrosis ( kerusakan tulang ) pada bagian rahang. Pada tanggal 11 januari 2011 FDA mengeluarkan peringatan baru tentang obat-obat ini. Sebab setelah menggunakan obat-obatan tersebut selama lima tahun. Tulang sebenarnnya bisa menjadi sangat rapuh dan menyebabkan patah tulang paha dengan sedikit perasa

Rabu, 22 Februari 2012

Asuhan Keperawatan Tumor Otak

PENGERTIAN
Tumor otak ( Brain Tumor ) adalah lesi oleh karena ada desakan ruang oleh “pertumbuhan sel yang abnormal” baik jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak.


(contoh foto diambil dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Brain_tumor )
ETIOLOGI
Riwayat trauma kepala
Faktor genetik
Paparan bahan kimia yang bersifat carsinogenik
Virus tertentu
PATOFISIOLOGI
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal secara sangat cepat pada daerah central nervous system (CNS). Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat di sekitarnya, mengakibatkan terjadi gangguan neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan intrakranial).

KLASIFIKASI
BERDASARKAN JENIS TUMOR
Jinak
- Acoustic neuroma
- Meningioma
- Pituitary adenoma
- Astrocytoma (grade I)
Malignant
- Astrocytoma (grade 2,3,4)
- Oligodendroglioma
- Apendymoma
BERDASARKAN LOKASI
Tumor intradural
a) Ekstramedular
- Cleurofibroma
- Meningioma
b) Intramedular
- Apendymoma
- Astrocytoma
- Oligodendroglioma
- Hemangioblastoma
Tumor ekstradural
Merupakan metastase dari lesi primer, biasanya pada payudara, tiroid, paru–paru, ginjal dan lambung.

MANIFESTASI KLINIS
Nyeri kepala
Nyeri bersifat dalam, terus – menerus, tumpul dan kadang – kadang bersifat hebat sekali. Biasanya paling hebat pada pagi hari dan diperberat saat beraktivitas, yang biasanya menyebabkan peningkatan TIK yaitu batuk, membungkuk dan mengejan.
Nausea dan muntah
Akibat rangsangan pada medula oblongata
Papiledema
Stasis vena menimbulkan pembengkakan papilla saraf optikus.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Identifikasi faktor resiko paparan dengan radiasi atau bahan – bahan kimia yang bersifat carcinogenik.
Identifikasi tanda dan gejala yang dialami: sakit kepala, muntah dan penurunan penglihatan atau penglihatan double.
Identifikasi adanya perubahan perilaku klien.
Observasi adanya hemiparase atau hemiplegi.
Perubahan pada sensasi: hyperesthesia, paresthesia.
Observasi adanya perubahan sensori: asteregnosis (tidak mampu merasakan benda tajam), agnosia (tidak mampu mengenal objek pada umumnya), apraxia (tidak mampu menggunakan alat dengan baik), agraphia (tidak mampu menulis).
Observasi tingkat kesadaran dan tanda vital.
Observasi keadaan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Psikososial: perubahan kepribadian dan perilaku, kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur pembedahan, adanya perubahan peran.
Laboratorium:
1) Jika tidak ada kontraindikasi: lumbal puncti.
2) Fungsi endokrin
Radiografi:
1) CT scan.
2) Electroencephalogram
3) Rontgen paru dan organ lain untuk mencari adanya metastase.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi akibat penekanan oleh tumor.
b. Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial.
c. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d ketidakmampuan mengenal informasi.
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi akibat penekanan oleh tumor.
Data penunjang: perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori, perubahan respon sensorik/motorik, gelisah, perubahan tanda vital.
Kriteria hasil: Tingkat kesadaran stabil atau ada perbaikan, tidak adanya tanda – tanda peningkatan Tekanan Intra Kranial.
Intervensi & Rasional
1. Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar.
R/ Mengkaji adanya perubahan pada tingkat kesadran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan okasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.
2. Pantau tanda vital tiap 4 jam.
R/ Normalnya autoregulasi mempertahankan aliran darah ke otak yang stabil. Kehilangan autoregulasi dapat mengikuti kerusakan vaskularisasi serebral lokal dan menyeluruh.
3. Pertahankan posisi netral atau posisi tengah, tinggikan kepala 200-300.
R/ Kepala yang miring pada salah satu sisi menekan vena jugularis dan menghambat aliran darah vena yang selanjutnya akan meningkatkan TIK.
4. Pantau ketat pemasukan dan pengeluaran cairan, turgor kulit dan keadaan membran mukosa.
R/ Bermanfaat sebagai indikator dari cairan total tubuh yang terintegrasi dengan perfusi jaringan.
5. Bantu pasien untuk menghindari/membatasi batuk, muntah, pengeluaran feses yang dipaksakan/mengejan.
R/ Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intra toraks dan intra abdomen yang dapat meningkatkan TIK.
6. Perhatikan adanya gelisah yang meningkat, peningkatan keluhan dan tingkah laku yang tidak sesuai lainnya.
R/ Petunjuk non verbal ini mengindikasikan adanya penekanan TIK atau menandakan adanya nyeri ketika pasien tidak dapat mengungkapkan keluhannya secara verbal.
Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial.
Data penunjang: klien mengatakan nyeri, pucat pada wajah, gelisah, perilaku tidak terarah/hati – hati, insomnia, perubahan pola tidur.
Kriteria hasil: Klien melaporkan nyeri berkurang/terkontrol, klien menunjukkan perilaku untuk mengurangi kekambuhan.
Intervensi & Rasional
1. Teliti keluhan nyeri: intensitas, karakteristik, lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk dan meredakan.
R/ Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
2. Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal seperti ekspresi wajah, gelisah, menangis/meringis, perubahan tanda vital.
R/ Merupakan indikator/derajat nyeri yang tidak langsung yang dialami.
3. Instruksikan pasien/keluarga untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri timbul.
R/ Pengenalan segera meningkatkan intervensi dini dan dapat mengurangi beratnya serangan.
4. Berikan kompres dingin pada kepala.
R/ Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi.
Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d ketidakmampuan mengenal informasi.
Data penunjang: Klien dan keluarga meminta informasi, ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku yang tidak tepat.
Kriteria hasil: Klien/keluarga mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan pengobatan, memulai perubahan perilaku yang tepat.
Intervensi & Rasional
1. Diskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila diketahui.
R/ Mempengaruhi pemilihan terhadap penanganan dan berkembnag ke arah proses penyembuhan.
2. Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi.
R/ Menghindari/membatasi faktor-faktor yang sering kali dapat mencegah berulangnya serangan.
3. Diskusikan mengenai pentingnya posisi/letak tubuh yang normal.
R/ Menurunkan regangan pada otot daerah leher dan lengan dan dapat menghilangkan ketegangan dari tubuh dengan sangat berarti.
4. Diskusikan tentang obat dan efek sampingnya.
R/ Pasien mungkin menjadi sangat ketergantungan terhadap obat dan tidak mengenali bentuk terapi yang lain.